Jika ada penghargaan olimpiade untuk cabang olahraga "Kesenjangan antara apa yang diketik dan apa yang dirasakan", maka netizen Indonesia adalah pemegang medali emas abadi.
Kita semua pernah melakukannya: berbaring telentang di kasur pada pukul 23.30 malam, lampu kamar mati, pupil mata diterangi cahaya biru ponsel, ekspresi wajah dingin tanpa sedikit pun kedutan otot senyum... tapi jari kita dengan lincah mengetik: WKWKWKWK ANJIRRRR NGAKAK BANGET SAMPAI SAKIT PERUT ððð.
Kamus Tingkatan Tawa Digital Indonesia
Ini bukan tawa. Ini adalah tanda baca pengganti titik agar kalimat tidak terkesan galak. Contoh: "Baik bu, nanti saya revisi haha." (Di dalam hati menangis).
Tawa standar kesopanan warga netizen. Menandakan kontennya lumayan menghibur, tapi ekspresi wajahmu hanya hembusan napas tipis lewat hidung sebelah kiri selama 0,2 detik.
Tingkat tawa palsu tertinggi. Semakin banyak huruf kapital dan emoji menangis yang dipakai, semakin datar dan kosong ekspresi mata orang yang mengetiknya.
Lalu, Bagaimana Jika Orang Beneran Tertawa?
Ketika seseorang benar-benar terpingkal-pingkal di dunia nyata, motorik jarinya akan kehilangan akurasi koordinasi. Ketikan yang keluar bukan "Hahaha", melainkan runtunan typo misterius yang sulit dipecahkan, seperti: AKWOKWOWKAWKO ANJJJJJ PLISSS KOSLWKSM.
Jadi, hargailah temanmu yang mengirimkan ketikan berantakan itu. Karena hanya dialah yang benar-benar tersenyum di balik dinginnya layar gadget hari ini.
"Wajah boleh sedatar aspal jalan tol, tapi jari jemari harus tetap ceria di grup WhatsApp agar dikira orang bahagia."
Komentar
Posting Komentar