"Halo Admin Saira 54%, tolong posting cerita ini tanpa menyebutkan nama asli saya, karena sampai hari ini saya masih sungkan lewat di depan pos ronda."
Semua berawal saat saya merasa sudah terlalu lama berpenampilan seperti orang yang baru bangun tidur tapi dipaksa hidup. Saya ingin bertransformasi. Saya ingin terlihat pintar, berwibawa, dan memiliki aura seorang CEO startup kecerdasan buatan.
Maka meluncurlah saya ke optik kacamata. Saya memilih frame kotak tebal berwarna hitam pekat mengkilap. Saat bercermin di toko, saya tersenyum bangga: "Wah, ini dia. Steve Jobs versi lokal sudah lahir."
Petaka di Warung Kopi Jam 10 Pagi
Keesokan harinya, saya memakai kacamata baru tersebut dipadukan kemeja bergaris dan celana panjang gelap. Karena sedang mengurus berkas perpanjangan SIM, saya membawa sebuah map kertas berwarna cokelat yang saya jepit erat di ketiak kiri.
Saya berjalan santai menuju warung kopi langganan untuk beli es teh manis. Begitu kaki saya melangkah masuk ke teras warkop, mendadak suasana yang tadinya riuh obrolan bapak-bapak langsung hening total.
"Pak Slamet, Pihak Leasing Datang!"
Salah satu bapak-bapak yang lagi duduk di pojokan tiba-tiba berdiri tegak, melempar uang lima ribuan ke meja, lalu berbisik panik ke temannya: "Met, orang koperasi simpan pinjam udah nyampe bawa berkas. Lewat pintu belakang cepetan!".
Pak Slamet langsung lari melompati parit kecil di belakang warung. Sementara pemilik warung menatap saya dengan tatapan penuh permohonan: "Mas, Pak Slamet cicilan kulkasnya tinggal dua bulan lagi kok Mas, tolong jangan ditarik dulu...".
Saya cuma bisa terdiam memegang gelas es teh plastik saya. Niat hati ingin terlihat seperti miliarder Silicon Valley, apa daya alam semesta menakdirkan saya terlihat seperti debt collector keliling.
"Sebesar 54% gaya hidup ditentukan oleh ekspresi muka, tapi 46% sisanya dipengaruhi oleh map cokelat yang kamu jepit di ketiak."
Komentar
Posting Komentar